Kisah di Balik Video Gadis Jualan Peyek sambil Merangkak di Surabaya Viral di Medsos

Surabaya207 Dilihat

SURABAYA – Cyntya Afrianti Amala (17 tahun) warga Kendangsari Gang 7 Sekolahan, Kota Surabaya, yang berjualan peyek sambil merangkak viral di media sosial. Cyntya menyebutkan, videonya yang viral di medsos diambil sekitar bulan Maret 2023 di kawasan RSUD dr Soetomo Surabaya. Video itu diambil oleh orang yang mengaku dari komunitas sosial. “Video itu sudah lama, bulan Maret 2023 di Jalan Petojo, dekat kawasan RSUD Dr Soetomo Surabaya,” kata Cyntya seperti dikutip dari ANTARA, Jumat (21/7/2023).

Dalam video yang beredar, Cyntya terlihat berjalan merangkak di pinggir jalan raya sembari berjualan peyek yang dikalungkan di lehernya.

“Sedih banget liat anak itu jual peyek, nyeret badannya, kakinya sampe lecet berdarah,” tulis narasi dalam video yang diunggah akun Tiktok @kisahharuhariini.

Menurut Cyntya, komunitas itu menawarkan untuk membantu keluarga Cyntya. Dengan cara memviralkan Cyntya melalui media sosial agar mendapat simpati dan bantuan dari masyarakat.

“Awal ditawari, katanya biar banyak orang yang donasi, bantu,” ujar Cyntya yang memiliki keterbatasan pada kedua kakinya ini.

Ibunda Cyntya, Sumiyati (47 tahun) mengaku tidak berani melihat video anaknya yang viral di medsos. Menurut Sumiyati, video anaknya itu seperti dibuat terlalu mendramatisir dan berlebihan.

“Diberitahu tetangga, saya dan Cyntya sampai sekarang tidak berani melihat videonya, sampai segitunya. Nangis saya, terlalu berlebihan. Saya minta maaf karena videonya viral, minta maaf juga kepada Pak Lurah,” kata Sumiyati.

“Memang kalau Hari Raya Idul Fitri, puasa, saya bikin peyek. Awalnya jualan di rumah sakit Nginden, karena Cyntya terapi di RSUD Dr Soetomo, akhirnya coba-coba jualan di sana. Tapi kalau sekarang, saya ikut kerja cabut benang di konveksi,” ujarnya.

Baca Juga:   Keren! Mahasiswa Ubaya Ciptakan Robot Pengantar Obat dan Makanan

Sumiyati bercerita, bahwa ia bersama suaminya Andi Siswoto (49), merupakan warga asli Mojokerto.

Sekitar 12 tahun yang lalu, ia bersama suami dan kedua anaknya memilih tinggal indekos di dekat rumah saudaranya kawasan Kendangsari Surabaya. Meski sudah lama tinggal di Kota Pahlawan, Sumiyati enggan pindah KK Surabaya.

“Karena memang tidak punya rumah, di Surabaya ini saya ngekos, makanya saya bingung,” katanya.

Saat Cyntya ingin masuk SMA Negeri, Sumiyati berinisiatif menitipkan anaknya itu masuk kartu keluarga (KK) budenya di alamat Jalan Kendangsari Gang Lebar No 102B Surabaya pada Agustus 2022.

Sementara Sumiyati bersama suami dan anak nomor tiga, administrasi kependudukannya masih berstatus warga Mojokerto.

“Karena belum satu tahun masuk KK Surabaya, Cyntya tidak diterima SMA Negeri. Akhirnya itu ditawari sama Pak Lurah sekolah PKBM paket C (Januari 2023), tapi Cyntya menolak, tidak mau bersekolah. Kalau sekarang Cyntya sudah mau sekolah kejar Paket C,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, Sumiyati pun ingin pindah KTP dan KK Surabaya. Inisiatif itu muncul karena melihat kondisi suaminya yang sakit dan membutuhkan banyak biaya pengobatan.

Akhirnya, ia memutuskan pindah KK Surabaya dengan menumpang alamat saudaranya di Jalan Kendangsari Gang Lebar No 102B.

Kemudian Cyntya ditarik masuk ke dalam KK Sumiyati yang diterbitkan pada 26 Juni 2023.

“Pindah Surabaya biar kalau berobat tidak jauh-jauh ke Mojokerto. Kemudian juga pindah KK Surabaya biar Cyntya bisa masuk ke sekolah negeri. Karena di Surabaya ini apa-apa gratis,” katanya.

Sementara itu, Pemerintah Kota Surabaya telah memberikan sejumlah intervensi kepada keluarga Sumiyati, salah satu intervensi itu berupa bantuan tebus ijazah SMP Cyntya.

“Bantuan tebus ijazah SMP Cyntya kita ajukan ke Baznas Surabaya pada November 2022. Saat kita ajukan itu, KK Cyntya masih ikut budenya di Kendangsari Surabaya,” kata Camat Tenggilis Mejoyo Surabaya, Wawan Windarto.

Komentar